Jabodetabek
Kalau ada rezeki, saya ingin sekali bisa berkurban tahun ini, Pak Suparman, guru honorer asal pelosok Kabupaten Bogor.
Masih ingat saat pertama kali melihat Ka'bah?
Air mata yang jatuh tanpa diminta. Lisan yang tak henti bertalbiyah. Hati yang terasa begitu dekat dengan-Nya. Momen itu mungkin tak akan pernah terlupa seumur hidup.
Di pelosok negeri, ada mereka yang setiap hari mengajarkan anak-anak membaca ayat tentang Baitullah, tetapi belum pernah sekalipun melihatnya.
Penjaga Al-Qur'an yang Terlupakan
Mereka adalah para dai dan guru ngaji di pelosok negeri. Di surau sederhana, di rumah panggung, di bawah lampu seadanya, mereka mengajarkan anak-anak mengeja huruf hijaiyah hingga lancar membaca Kalamullah.
Kebanyakan dari mereka tidak menerima gaji tetap. Ada yang hanya dibayar seikhlasnya, ada pula yang tidak dibayar sama sekali. Namun mereka tetap mengajar, karena yakin setiap huruf yang diajarkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Di balik pengabdian itu, tersimpan satu kerinduan yang sama: menginjakkan kaki di Tanah Suci. Dengan penghasilan yang ada, impian itu nyaris mustahil terwujud.



Program Dai Baitullah
Melalui program Dai Baitullah, Baitulmal Tazkia mengajak Sahabat Kebaikan, khususnya keluarga besar alumni haji dan umrah, untuk memberangkatkan para dai dan guru ngaji pelosok negeri menunaikan ibadah umrah.
Program ini adalah bentuk penghargaan atas pengabdian mereka menjaga generasi Qur'ani, sekaligus penguat ruhani agar mereka semakin bersemangat berdakwah sepulang dari Tanah Suci.